Terbitan

Triliunan TIK Menguap: Putus Rantai Subjektivitas Keputusan Investasi TIK

  • Penerbit KEDAULATAN RAKYAT
  • Tanggal Terbitan 23-01-2026
Triliunan TIK Menguap: Putus Rantai Subjektivitas Keputusan Investasi TIK

Triliunan TIK Menguap: Putus Rantai Subjektivitas Keputusan Investasi TIK

Oleh: Dr. Wijang Widhiarso, M.Kom.
Dosen Prodi: Sistem Informasi Universitas Teknologi Digital Indonesia
Bidang Minat Penulis: Sistem Informasi dan Aplikasinya

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah kehidupan manusia secara drastis. Satu gawai kini menggantikan jam tangan, peta kertas, hingga transaksi tunai. Aktivitas belanja berpindah ke e-commerce, komunikasi keluarga ke media sosial,  dan mahasiswa di Yogyakarta dapat mengikuti kuliah profesor Harvard secara langsung. Semua perubahan ini lahir dari investasi TIK yang masif.

Menurut GlobalCio.com tahun 2025 mencatat lonjakan besar, nilai pasar ICT Indonesia menembus USD 48,91 miliar, sementara ekonomi digital mencapai USD 130 miliar. Dalam konteks yang sama pemerintah Indonesia mengusulkan tambahakn anggaran TIK sbeesar 13, 27 triliun pada 2026. Dalam APBN 2025-2029, belanja TIK bahkan mencpaai Rp 47.587 triliun. Proyek-proyek raksasa seperti SATRIA-1, BTS 4G, dan pusat data nasional menyerap dana besar demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Namu, dibalik angka-angka fantastis tersebut, banyak proyek TIK justru gagal memberi dampak nyata. Anggaran membengkak, pelaksanaan molor bertahun-tahun, atau berhenti sebelum berfungsi. Program e-goverment di daerah mandek, sistem informasi rumah sakit kolaps tak lama setelah seremoni peluncuran, dan konsep smart city berhenti sebagai dokumen perencanaan. Triliunan rupiah APBN pun menguap tanpa hasil sepadan.

Kegagalan serupa juga terjadi di tingkat global. Di Amerika Serikat, Sejumlah distrik sekolah pada 2022-2023 menghentikan penggunaan Chromebook akibat biaya lisensi yang membengkak, penurunan kinerja perangkat, serta risiko keamanan data siswa. Swedia bahkan menghentikan digitalisasi berbasi Chromebook dan tablet di sekolah dasar, lalu kembali ke buku cetak setelah riset nasional menunjukkan penurunan literasi dan konsentrasi belajar. Negara maju pun belajar bahwa teknologi yang murah dan cepat tidak selalu tepat guna. Pola kegagalannya relatif seragam dimana keputusan investasi TIK kerap diambil dengan asumsi bahwa teknologi adalah solusi instan, tanpa analisis memadai terhadap konteks sosial, kesiapan pengguna, dan infrastruktur pendukung. Manfaat ekonomi dihitung dangkal, sementara biaya tersembunyi dan risiko jangka panjang diabaikan. Lebih berbahaya ;agi, keputusan strategis sering ditentukan oleh segelintir aktor, sehingga rawan bias, tekanan vendor, dan konflik kepentingan.

Pelajaran pentingnya jelas bahwa persoalan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan salah satunya pada subjektivitas dalam pengambilan keputusan. Investasi TIK seharusnya dievaluasi dari dampak berantai yang ditimbulkannya-apakah meningkatkan kinerja fungsi organisasi, mendorong restrukturiasi kerja, atau melahirkan inovasi yang berdampak pada produktivitas. Sebaiknya keputusan Investasi TIK perlu diputuskan secara kolektif melalui mekanisme berbasi metode ilmiah, seperti Information Economic (IE), Advanced Information Economi (AIE) atau yang berbasi Group Decision Support System (GDSS) seperti Group Advanced Information Economic (GAIE) dan sebagainya, agar manfaat dihitung bertahap, risiko dianalisis terukur, dan prioritas proyek ditetapkan secara rasional.

Tahun 2026 semestinya menjadi titik balik. Diperlukan mekanisme evaluasi objektif dan metode ilmiah dalam seluruh perencanaan anggaran dan investasi TIK. Tanpa perubahan cara mengambil keputusan, Indonesia Digital berisiko hanya menjadi kuburan triliunan rupiah.

Program studi Sistem Informasi di UTDI mendidik generasi pemimpin yang berkontribusi pada pencapaian Indonesia emas tahun 2045 yang berfokus Indonesia Digital. Dengan kurikulum berbasis metode ilmiah, evaluasi objektif, dan kolaborasi industri terkini, mahasiswa dilatih mengelola investasi TIK secara strategis-menghindari "kuburan triliunan" dan mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan. Daftarkan diri sekarang, jadilah arsitek masa depan ekonomi digital Indonesia.