ATS sebagai Bagian dari Digitalisasi Bisnis, Efisiensi dan Kompetisi Tenaga Kerja
Dosen Prodi: Bisnis Digital Universitas Teknologi Digital Indonesia
Bidang Penelitian & Keminatan Penulis: Komunikasi Organisasi, Transformasi Digital, dan Dampaknya Terhadap Proses Bisnis dan Dunia Kerja
Tahukah Anda, 76% perusahaan telah menggunakan AI untuk melakukan penyaringan awal kandidat, sedangkan 49% menggunakan AI untuk menilai kandidat lebih lanjut (Goodstats, 2025). Mencari kerja menjadi tantangan besar, terutama bagi mereka yang belum memiliki pengalaman kerja. Pernahkah Anda membaca berita atau mendengar keluh kesah dari kenalan tentang sulitnya mencari kerja “in this economy”? Istilah “in this economy” tersebut menjadi candaan atas keresahan masyarakat, termasuk fenomena banyak lamaran sudah dikirimkan, tetapi hanya sedikit panggilan yang datang. Hal ini menjadikan para pencari kerja merasa frustrasi.
Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi signifikan dalam praktik rekrutmen, dari proses manual menjadi berbasis platform digital. Proses rekrutmen menjadi lebih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sistem berbasis AI yang mampu menyaring kandidat. Sebagai dosen bisnis digital, saya melihat rekrutmen hari ini bukan lagi sekadar urusan Human Resources (HR) semata, tetapi bagian dari transformasi bisnis berbasis data dan sistem.
Penggunaan Applicant Tracking System (ATS) dalam rekrutmen digital merupakan salah satu bentuk transformasi digital manajemen sumber daya manusia di perusahaan. Dikutip dari Glints Indonesia (2025), sebanyak 97,4% perusahaan Fortune 500 sudah menggunakan ATS. ATS adalah perangkat lunak (software) yang merampingkan dan mengotomasi seluruh proses perekrutan, mulai dari iklan lowongan hingga penerimaan karyawan baru. Dalam praktiknya, ATS berfungsi sebagai penyaring awal. Ratusan CV yang masuk lebih dulu dipilah secara otomatis berdasarkan kriteria tertentu, misalnya keahlian, pengalaman kerja, atau latar belakang pendidikan, sebelum akhirnya dibaca dan dipertimbangkan oleh manusia. ATS dapat memposting lowongan pekerjaan, mengumpulkan resume, memindainya untuk kata kunci yang relevan, serta memberi peringkat kandidat berdasarkan kriteria pekerjaan. Rekrutmen digital ini memungkinkan proses yang lebih cepat, efisien, menjangkau lebih banyak pelamar, dan membantu perusahaan mengambil keputusan berbasis data.
Dari sudut pandang bisnis, penggunaan ATS membantu perusahaan menyederhanakan proses perekrutan sekaligus menekan biaya operasional (digital process automation). Keputusan tidak lagi semata-mata bertumpu pada intuisi, tetapi pada data yang diolah secara sistematis. Artinya, peran HR juga ikut berubah. Selain memahami manusia, HR dituntut memahami cara kerja sistem dan data dalam pengambilan keputusan (data-driven decision making).
Bagi pencari kerja, pengaruhnya cukup jelas. ATS akan membaca daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae/CV) berdasarkan kata kunci yang relevan dengan kebutuhan posisi. Struktur CV yang sederhana, penggunaan font standar, serta pencantuman capaian kerja yang terukur secara kuantitatif menjadi semakin penting. Baik pencari kerja yang masih muda maupun yang sudah berpengalaman, tidak ada salahnya mulai mengenal cara kerja sistem ini. Kemampuan individu tetap penting, tetapi memahami sistem dapat membuka peluang yang lebih besar.
Tidak dapat dipungkiri, dunia kerja makin kompetitif dan sistematis. Mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungan akan lebih bertahan. Proses adaptasi ini membutuhkan peran bersama, baik melalui materi di kampus, pelatihan membuat CV, dan pembelajaran mandiri. Rekrutmen hari ini bukan hanya proses seleksi manusia, tetapi proses seleksi data. Banyak pencari kerja tersisih bukan karena kurang mampu, melainkan karena tidak memahami sistem yang digunakan. Karena itu, ATS sebaiknya tidak perlu dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang perlu dipelajari. Melek teknologi adalah bagian dari kesiapan kerja. Pada akhirnya, tantangannya sederhana: mau memahami sistem yang berubah, atau terus bingung mengapa lamaran tak pernah dibalas.