Terbitan

Menyeimbangkan Kecepatan Pemrograman di Era AI dengan Fondasi dan Strategi Bisnis.

  • Penerbit KEDAULATAN RAKYAT
  • Tanggal Terbitan 27-02-2026
Menyeimbangkan Kecepatan Pemrograman di Era AI dengan Fondasi dan Strategi Bisnis.

Menyeimbangkan Kecepatan Pemrograman di Era AI dengan Fondasi dan Strategi Bisnis.

Oleh: Prof. Dr. L.N. Harnaningrum, S.Si., M.T.
Dosen Prodi: Informatika Universitas Teknologi Digital Indonesia
Bidang Minat Penulis: Mobile Computing

Era digital telah menempatkan pengembangan perangkat lunak sebagai pilar utama dinamika bisnis. Munculnya Artificial Intelligence (AI), khususnya Large Language Models (LLM) seperti Gemini, ChatGPT dan Claude, telah memicu perubahan paradigma yang signifikan. Menulis kode program yang dulunya dilakukan secara manual tahap demi tahap, kini dapat dilakukan secara instan melalui prompting. Namun, kecepatan yang ditawarkan AI tanpa arah yang jelas justru dapat menjadi risiko besar bagi pengembang dan organisasi.

AI bukan sekadar alat, melainkan mitra produktivitas yang mampu menangani tugas-tugas repetitif dalam hitungan detik. Hal ini mencakup pembuatan kode boilerplate seperti setup API (seperti CRUD), konfigurasi basis data, hingga optimasi unit testing. Dengan bantuan AI, pengembang dapat mendeteksi skenario pengujian yang terlewatkan dan melakukan refactoring kode agar lebih bersih. Bahkan, AI berperan sebagai tutor pribadi yang mempercepat adaptasi teknologi baru, misalnya membantu pengembang backend memahami konsep frontend secara kontekstual. Namun, perlu diwaspadai terlalu banyak boilerplate juga dapat membuat kode program menjadi “gemuk” dan sulit dibaca (verbose).

Meski AI mampu menghasilkan jutaan baris kode, ia bekerja berdasarkan probabilitas, bukan pemahaman logika mendalam. Di sinilah peran kurasi dan validasi manusia menjadi krusial. Tanpa pemahaman mendasar tentang algoritma, struktur data, dan manajemen memori, pengembang tidak akan mampu mendeteksi kesalahan logika atau celah keamanan yang sering kali terselip dalam saran AI. Dalam arsitektur sistem yang kompleks, seperti komunikasi antar microservices, AI belum bisa diandalkan sepenuhnya. Manusia tetap memegang kendali intelektual untuk memastikan efisiensi aliran data secara keseluruhan. Ketergantungan berlebihan pada AI tanpa pemahaman fundamental hanya akan menciptakan tumpukan kode "gelap" yang sulit dipelihara (maintenance) di masa depan.

Bagaimana kita dapat menyelaraskan teknologi dengan strategi bisnis? Di masa depan, pembeda antara pengembang senior dan junior bukan lagi kecepatan menulis kode, melainkan kedalaman pemahaman terhadap dampak bisnis. Pengembang harus mampu menjalankan value-driven development, memastikan bahwa setiap fitur benar-benar menyelesaikan masalah pengguna, bukan sekadar estetika tanpa ada gunanya. AI memang mengakselerasi time-to-market, memungkinkan validasi ide bisnis dapat dilakukan dengan lebih cepat. Namun, keputusan strategis mengenai efisiensi biaya dan sumber daya tetap berada di tangan manusia. Pengembang perangkat lunak masa depan akan berevolusi menjadi AI-Assisted Architect, seorang dirigen yang memimpin orkestra alat-alat AI, yang menerjemahkan visi bisnis abstrak menjadi instruksi teknis (prompting) yang presisi dan aman.

Untuk menguasai era ini dan menjadikan masa depan lebih baik, terdapat tiga elemen kunci yang harus diperhatikan. Pertama, perlunya etika dan privasi data, yaitu memastikan data sensitif tetap terlindungi dan tidak bocor ke model AI publik. Kedua, terdapat spesialisasi baru dengan munculnya peran seperti AI Workflow Engineer dan Prompt Architect. Ketiga, pembelajaran berkelanjutan yang merupakan kemampuan "belajar cara belajar" (learning how to learn) menjadi keterampilan teknis yang paling berharga karena pengetahuan teknis kini lebih cepat usang.

AI tidak akan menggantikan pengembang, namun pengembang yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak menggunakannya. Kesuksesan di era ini membutuhkan harmonisasi antara penggunaan AI untuk kecepatan, penguasaan dasar-dasar untuk kualitas, dan pemahaman proses bisnis untuk relevansi.

Ketiga aspek tersebut merupakan fokus utama di Universitas Teknologi Digital Indonesia (UTDI). Melalui dua fakultas (FTI dan FMB) yang mengintegrasikan teknologi dan manajemen bisnis, UTDI membekali mahasiswa untuk menjadi talenta digital yang kompeten. Mari bergabung dan belajar bersama UTDI agar tetap menjadi pioner di masa depan.