Belajar Matematika di Era AI: Antara Jawaban Instan dan Krisis Berpikir Kreatif
Oleh: Ilham Rais Arvianto, M.Pd.
Dosen Prodi: Informatika Universitas Teknologi Digital Indonesia
Bidang Penelitian & Keminatan Penulis: Pendidikan Matematika
Ramadhan sering dimaknai sebagai bulan latihan pengendalian diri. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan dorongan untuk segala sesuatu yang serba instan. Nilai ini terasa semakin relevan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), ketika jawaban atas berbagai persoalan–misalnya matematika–kini bisa muncul hanya dalam hitungan detik dengan sangat mudah.
Cukup mengetikkan pertanyaan, solusi lengkap dengan langkah-langkahnya langsung tersaji rapi. Teknologi ini tentu sangat membantu. Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan penting: apakah siswa/mahasiswa benar-benar memahami prosesnya, atau sekadar menyalin hasil akhirnya?
Fenomena ini bukan sekadar kesan di ruang kelas. Beberapa studi global pada 2024–2025 menunjukkan penggunaan AI untuk tugas akademik sudah menjadi hal yang umum. Sekitar satu dari enam siswa sekolah menengah dan hampir setengah mahasiswa dalam berbagai sampel penelitian mengaku menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Bahkan sekitar seperempat mahasiswa menyatakan sangat bergantung pada AI untuk menyusun tugas-tugas tertulisnya. Artinya, AI telah menjadi bagian dari keseharian belajar generasi muda.
Di sisi lain, literasi numerasi Indonesia masih menjadi tantangan serius. Sejak 2023, berbagai laporan nasional menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai level dasar internasional dalam kemampuan numerasi, meskipun kebijakan seperti Gerakan Literasi Nasional, dan Kurikulum Merdeka terus diupayakan. Kita masih menghadapi situasi yang kontras: teknologi pembelajaran semakin canggih, tetapi kemampuan dasar berpikir matematis belum sepenuhnya kuat.
Di perkuliahan, kami pernah mendapati seorang mahasiswa menyerahkan solusi yang sangat sistematis untuk sebuah persoalan matematika. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik setiap langkah, ia kesulitan. Jawaban tersebut ternyata hasil salin dari AI tanpa benar-benar memahami prosesnya. Di sinilah persoalannya terlihat jelas. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kecenderungan untuk melewati proses berpikir.
Dalam pembelajaran matematika, berpikir kreatif bukan berarti menemukan rumus baru, melainkan kemampuan melihat satu persoalan dari berbagai sudut, mencoba strategi berbeda, dan menjelaskan alasan di balik pilihan tersebut. Jika mahasiswa hanya menerima solusi instan tanpa mempertanyakan atau memverifikasi, ruang untuk berpikir kreatif menjadi semakin sempit.
Walaupun demikian, berbagai penelitian terbaru menunjukkan AI memang tidak otomatis melemahkan kemampuan berpikir kritis maupun kreatif. Dampaknya sangat bergantung pada cara penggunaannya. Jika AI diposisikan sebagai alat bantu untuk mengecek, membandingkan, dan memperdalam pemahaman, ia bisa menjadi sarana belajar yang sangat bermanfaat.
Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang diterapkan di Universitas Teknologi Digital Indonesia (UTDI) pada dasarnya menekankan capaian kemampuan mahasiswa dalam proses penyelesaian proyek maupun persoalan, termasuk juga kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Di tengah hadirnya AI, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. Tantangannya adalah bagaimana proses pembelajaran benar-benar memberi ruang bagi mahasiswa untuk tetap berpikir, bukan sekadar menerima jawaban.
Akhirnya, di tengah kemudahan yang serba cepat, Ramadhan mengajarkan bahwa nilai sejati sering lahir dari proses yang dijalani dengan sabar dan sadar. Demikian pula dalam belajar matematika—AI mungkin dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi hanya proses berpikir yang membentuk ketangguhan intelektual dalam jangka panjang. Pertanyaannya, di era yang serba instan ini, apakah kita masih bersedia memberi ruang bagi proses berpikir untuk tumbuh?