Terbitan

Momen Wisuda, Teknologi AI, dan Masa Depan Bangsa: Mengapa Pendidikan Harus Tetap Diperjuangkan

  • Penerbit KEDAULATAN RAKYAT
  • Tanggal Terbitan 29-05-2026
Momen Wisuda, Teknologi AI, dan Masa Depan Bangsa: Mengapa Pendidikan Harus Tetap Diperjuangkan

Momen Wisuda, Teknologi AI, dan Masa Depan Bangsa: Mengapa Pendidikan Harus Tetap Diperjuangkan

Oleh: Siska Lidya Revianti, S.Pd., M.Hum.
Dosen Prodi: Informatika Universitas Teknologi Digital Indonesia
Bidang Penelitian & Ketertarikan Penulis: Pendidikan, Pendidikan Bahasa Inggris (TOEFL & TESOL), Teknologi Pendidikan, Pengembangan Diri dan Humaniora

Beberapa minggu terakhir, linimasa media sosial dipenuhi berbagai video wisuda dari banyak perguruan tinggi di Indonesia. Mulai dari prosesi wisuda yang megah, tangis haru orang tua yang memeluk anaknya dengan bangga dan penuh kelegaan, wisudawan yang selebrasi dengan para pejabat kampus dan dosen, hingga momen istimewa ketika orang anak akhirnya berhasil memakaikan baju dan toganya di tubuh ibunya. Sayapun ikut tersenyum dan berpikir betapa banyak lulusan baru yang sedang dilahirkan oleh perguruan tinggi di Indonesia saat ini. Hhhmm… bahkan mungkin bisa tembus angka ribuan. Angka yang akan semakin bertambah di data statistik dan menjadi cerminan wajah dunia pendidikan di Indonesia. Di tengah dunia yang berubah begitu cepat akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI), otomatisasi industri, dan disrupsi digital akankah angka tersebut mencerminkan harapan baru atau justru malah menambah sederetan tantangan yang harus dihadapi dunia pendidikan di Indonesia? Apakah dunia pendidikan tinggi kita benar-benar sedang menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh untuk menghadapi masa depan?

Selama beberapa periode wisuda terakhir, saya selalu terlibat dalam menyusun konsep dan setiap detail prosesi agar wisuda menjadi momen berkesan bagi mahasiswa dan keluarganya. Namun di balik kesibukan itu, hati saya selalu dipenuhi perasaan campur aduk: lega, bangga, haru, optimisme, sekaligus kekhawatiran. Saya mengenal para wisudawan bukan sekadar sebagai lulusan, tetapi sebagai manusia-manusia muda dengan kisah perjuangan yang luar biasa. Ada yang datang dengan rasa minder, salah memilih jurusan, hingga harus kuliah sambil bekerja karena persoalan ekonomi keluarga. Namun ada pula yang bertumbuh menjadi mahasiswa aktif dan berprestasi, membantu berbagai kegiatan kampus, menggerakkan organisasi, hingga terlibat dalam penelitian dan lomba tingkat nasional maupun internasional. Sebagai dosen, saya merasa sedang menyaksikan manusia-manusia muda yang berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Kampus ternyata tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk ketangguhan hidup. Mereka yang dahulu datang dengan penuh keraguan, kini berjalan mengenakan toga sebagai pribadi yang lebih tangguh, resilien, persisten, dan penuh harapan akan masa depan yang lebih baik.


Dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Artificial Intelligence berkembang sangat cepat dan mulai menggantikan banyak pekerjaan manusia. Beberapa program studi dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri, ada yang harus berganti nama atau bahkan terancam ditutup. Di sisi lain, masih banyak guru dan dosen yang harus bertahan dengan kesejahteraan yang belum layak. Belum lagi polemik tentang arah pendidikan nasional dan perdebatan mengenai revisi RUU Sistem Pendidikan Nasional yang menyentuh fondasi hak pendidikan sebagaimana diamanahkan dalam UUD 1945. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah pendidikan masih benar-benar dipandang sebagai jalan untuk memanusiakan manusia? Di tengah segala kegelisahan itu, saya teringat pada sebuah kutipan Nelson Mandela yang mengatakan bahwa “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia.” Kalimat itu terasa sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu dalam. Dunia ternyata tidak selalu berubah karena kekuatan, kekayaan, atau jabatan. Kadang perubahan terbesar lahir dari seseorang yang mau belajar, memahami, lalu membagikan pengetahuannya kepada orang lain. Pendidikan bukan sekadar angka di rapor, huruf ABC di transkrip atau gelar yang tertulis di depan dan belakang nama seseorang. Pendidikan adalah cahaya yang membentuk cara berpikir manusia. Ia menumbuhkan kesadaran, melatih empati, memperluas cara pandang, membuat keputusan yang bijak dan mengajarkan manusia untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang bergerak semakin mekanis.


Harapan itu kembali terasa kuat ketika saya mendengarkan pidato wakil wisudawan pada acara Wisuda UTDI beberapa waktu lalu. Dengan penuh keyakinan, ia mengatakan bahwa manusia tidak perlu takut terhadap teknologi selama manusia tetap menjadi pihak yang merancang dan mengendalikan teknologi itu. Secanggih apa pun AI, teknologi tidak akan pernah memiliki empati, nurani, dan sentuhan rasa seperti manusia. Karena itu, generasi muda tidak boleh menyerah pada keadaan, tetapi harus berani menjadi bagian dari solusi, keluar dari zona nyaman, berkolaborasi, dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat. Kalimat itu menghantam hati saya begitu dalam hingga air mata saya menetes tanpa mampu saya bendung. Saat itulah saya sadar bahwa pendidikan sejati bukan sekadar menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi melahirkan manusia yang kreatif, adaptif, optimis di tengah ketidakpastian, mampu berpikir kritis tanpa kehilangan moralitas, serta mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya. Sebagai pendidik, saya percaya bahwa setiap senyum kecil yang kita berikan di ruang kelas, setiap motivasi yang kita ucapkan kepada mahasiswa yang hampir menyerah, setiap ketulusan dalam mengajar—semuanya sedang ikut membangun masa depan Indonesia. Pendidikan bukan sekadar profesi. Pendidikan adalah ikhtiar manusia dalam membangun peradaban. Dan selama masih ada anak-anak muda yang berani bermimpi, masih ada dosen yang mengajar dengan hati, serta masih ada kampus yang percaya pada pentingnya integritas, moralitas, dan humanisme, maka harapan itu akan selalu hidup.


Universitas Teknologi Digital Indonesia hadir bukan hanya untuk mencetak lulusan yang kompeten di bidang teknologi dan bisnis digital, tetapi juga untuk membentuk generasi yang adaptif, global, berintegritas, dan siap memberi dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Mari bertumbuh bersama di kampus yang percaya bahwa teknologi harus berjalan berdampingan dengan hati nurani dan nilai kemanusiaan.