Terbitan

Asupan Gizi “Kecerdasan Buatan” adalah Digitalisasi

  • Penerbit KEDAULATAN RAKYAT
  • Tanggal Terbitan 05-06-2026
Asupan Gizi “Kecerdasan Buatan” adalah Digitalisasi

Asupan Gizi “Kecerdasan Buatan” adalah Digitalisasi

Oleh: Sri Redjeki, S.Si., M.Kom., Ph.D.
Dosen Prodi: Magister Teknologi Informasi Universitas Teknologi Digital Indonesia
Bidang Keminatan : Data Science

Dunia saat ini sedang bergerak menuju era yang semakin digital. Hampir seluruh bidang kehidupan mengalami perubahan besar, mulai dari pendidikan, bisnis, pemerintahan, kesehatan, industri kreatif, transportasi, hingga layanan publik. Perubahan ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dipahami dan dikuasai oleh masyarakat. Dalam konteks inilah, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence hadir sebagai salah satu kekuatan baru yang mampu mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Namun, kecerdasan buatan tidak dapat berdiri sendiri. AI membutuhkan “asupan gizi” agar dapat bekerja secara tepat, cerdas, dan bermanfaat. Asupan gizi tersebut adalah digitalisasi. Tanpa digitalisasi, AI tidak memiliki bahan untuk dipelajari, dianalisis, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Digitalisasi menghasilkan data, informasi, rekam jejak aktivitas, pola perilaku, serta berbagai pengetahuan yang kemudian menjadi bahan bakar utama bagi kecerdasan buatan.

Judul tulisan “Asupan Gizi Kecerdasan Buatan adalah Digitalisasi” menggambarkan bahwa AI membutuhkan ekosistem digital yang kuat yang terus berkembang. Seperti manusia yang membutuhkan makanan bergizi untuk tumbuh sehat dan produktif, AI juga membutuhkan data yang baik, sistem yang tertata, keamanan yang kuat, serta literasi digital masyarakat yang memadai. Jika data yang diberikan buruk, tidak lengkap, bias, atau tidak akurat, maka hasil kerja AI juga dapat keliru. Karena itu, kualitas digitalisasi sangat menentukan kualitas kecerdasan buatan yang dihasilkan. Digitalisasi bukan hanya sekedar proses mengubah dokumen fisik menjadi dokumen elektronik yang mudah diakses tetapi digitalisasi adalah perubahan cara berpikir dan cara bekerja manusia yang lebih efektif dan efisien dengan dampak maksimal. Dalam dunia bisnis, digitalisasi membantu pelaku usaha memahami pasar, perilaku konsumen, tren produk, dan strategi pemasaran. Dalam pendidikan, digitalisasi membantu proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel, personal, dan berbasis kebutuhan peserta didik. Dalam pemerintahan, digitalisasi membantu pelayanan publik menjadi lebih cepat, transparan, dan tepat sasaran. Dalam bidang kesehatan, digitalisasi dapat membantu pencatatan, analisis, dan pengambilan keputusan medis secara lebih baik.

Dari proses digitalisasi inilah data lahir dalam jumlah besar yang sering disebut Big Data. Limpahan data ini  kemudian dapat diolah menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi dasar pengambilan keputusan. Di sinilah AI memainkan peran penting karena AI mampu membaca pola, membuat prediksi, memberikan rekomendasi, mempercepat pekerjaan, dan menemukan solusi yang sebelumnya sulit dilakukan secara manual. Tetapi semua itu hanya mungkin terjadi apabila masyarakat, institusi, dan dunia industri memiliki kesiapan digital yang baik. Tantangan terbesar masa kini bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana memahami informasi dan data secara benar. Masyarakat digital setiap hari berhadapan dengan banjir informasi dari media sosial, aplikasi, mesin pencari, platform bisnis, dan berbagai layanan digital. Tanpa literasi digital, masyarakat mudah terjebak dalam hoaks, penipuan digital, penyalahgunaan data pribadi, dan keputusan yang tidak tepat. Sebaliknya, dengan literasi digital yang baik, masyarakat dapat memilah informasi, menjaga keamanan data, berpikir kritis, dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Oleh karena itu, literasi digital harus menjadi bagian penting dari pendidikan masa depan. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan mengolah data, memahami keamanan digital, berkomunikasi secara etis, serta menciptakan solusi berbasis teknologi. Dalam siklus literasi digital yang masif, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pencipta nilai baru.

Universitas Teknologi Digital Indonesia hadir untuk menjawab tantangan tersebut. UTDI memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang cakap digital, adaptif, kreatif, dan berintegritas. UTDI berkomitmen memberikan kemampuan digital dalam berbagai bidang, seperti bisnis digital, marketing digital, pengolahan data, keamanan siber, pengembangan perangkat lunak, developer, dan software engineer.

Pada akhirnya, masa depan AI sangat ditentukan oleh kualitas digitalisasi hari ini. Jika digitalisasi dibangun dengan data yang baik, etika yang kuat, keamanan yang memadai, dan literasi masyarakat yang luas, maka AI akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bangsa. UTDI hadir untuk ikut memberi “gizi” bagi masa depan kecerdasan buatan melalui pendidikan digital yang relevan, unggul, dan berdampak bagi Indonesia.