Kampus
di Era AI, Mengajarkan Jawaban atau Cara Berpikir?
Oleh: Agung Budi Prasetyo, S.Kom.,M.Kom.
Dosen: Dosen Fakultas Teknologi Informasi
Bidang Peminatan : Soft Computing, DSS, dan Web
Apa yang terjadi jika hampir semua pertanyaan dari dosen dapat dijawab oleh mahasiswa dengan sangat baik dalam hitungan detik? Ya, tentu dengan bantuan AI. Cukup buka ChatGPT, ketik pertanyaan, bila perlu dengan memfoto tulisan tangan, lalu jawaban akan muncul, termasuk dengan penjelasan detail hingga sumber jawabannya.
Lantas, masih pentingkah dosen menjelaskan materi di depan kelas? Pertanyaan reflektif ini tentu bukan untuk meragukan keberadaan dosen, tapi justru sebaliknya, untuk membuat perguruan tinggi memikirkan kembali apa sebenarnya tujuan pendidikan.
Sebelum AI hadir, mahasiswa sering diarahkan untuk mengetahui banyak hal. Mereka harus membaca buku, wajib mengikuti kuliah, menghafalkan konsep, mengerjakan tugas, dan akhirnya mengikuti ujian dan mendapat nilai. Namun masalahnya, sebagian pengetahuan tersebut sekarang dapat diperoleh dan dijawab dengan sangat mudah melalui teknologi AI. Jadi masih perlukah kampus mengajarkan sebanyak mungkin pengetahuan kepada mahasiswa?
Pengetahuan tetaplah pengetahuan, dan itu penting. Tanpa pengetahuan, seseorang tidak akan mampu memahami persoalan. Namun pengetahuan saja tidak cukup. Mahasiswa juga harus mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menganalisis masalah, membandingkan informasi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang dibuat. Dan di sinilah kemampuan berpikir menjadi semakin penting.
ChatGPT dapat memberikan lima alternatif jawaban dalam beberapa detik. Tetapi mahasiswa tetap harus menentukan jawaban mana yang paling masuk akal. ChatGPT dapat membuat sebuah program komputer. Tetapi mahasiswa harus memahami apakah program tersebut benar-benar menyelesaikan masalah. ChatGPT dapat membuat sebuah tulisan. Tetapi mahasiswa tetap harus mampu menilai apakah argumentasinya kuat dan sumber informasinya dapat dipercaya.
Artinya, masalah pendidikan di era AI bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan jawaban. Masalahnya adalah bagaimana memastikan bahwa jawaban tersebut benar, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu, cara mengajar di perguruan tinggi juga perlu diubah. Tugas yang jawabannya dapat diperoleh dengan sekali mengetik di ChatGPT mungkin tidak lagi cukup. Mahasiswa perlu diberikan persoalan yang membutuhkan pengamatan, analisis, perbandingan, diskusi, dan pengambilan keputusan.
Dosen pun tidak harus merasa tersaingi oleh kehadiran AI. Justru peran dosen dapat menjadi lebih penting dalam menghadapi AI. Ketika informasi semakin mudah diperoleh, mahasiswa membutuhkan seseorang yang membantu mereka memahami konteks, menguji argumentasi, menemukan kesalahan, dan mempertanyakan asumsi yang digunakan.
Kampus akhirnya tidak cukup hanya menjadi tempat untuk mengumpulkan pengetahuan. Kampus harus menjadi tempat untuk melatih cara berpikir.
Mungkin sudah waktunya pertanyaan dalam perkuliahan tidak berhenti pada, “Apa jawabannya?”. Pertanyaan berikutnya harus lebih penting: “Bagaimana kita tahu bahwa jawaban itu benar?”
Jika mahasiswa mampu menjawab pertanyaan tersebut, maka kehadiran AI bukan ancaman bagi pendidikan. AI justru dapat menjadi alat yang membantu manusia belajar lebih baik.
Sebab ketika mesin semakin mudah memberikan jawaban, kemampuan manusia untuk berpikir justru menjadi semakin berharga.