Teknologi Makin Cerdas, Manusia Makin Malas Berpikir?
Oleh : Ariesta Damayanti, S.Kom., M.Cs
Dosen : Dosen Prodi Informatika
Bidang Penelitian dan Keminatan Penulis : Kecerdasan Artifisial, Machine Learning, dan Deep Learning
Ada satu pertanyaan mahasiswa yang
belakangan ini sering terlintas di kepala saya: “Bu, kalau sekarang ada
ChatGPT, apakah kita masih perlu belajar?” Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun, sebenarnya ia menggambarkan perubahan besar yang sedang kita hadapi. Dulu,
ketika tidak tahu akan sesuatu, kita mencari buku, membaca jurnal, bertanya
kepada dosen, atau berdiskusi dengan teman. Sekarang, cukup ketik pertanyaan di
layar, kemudian dalam hitungan detik, jawaban sudah tersedia. Bukan hanya
mahasiswa. Kita semua mulai terbiasa dengan kemudahan tersebut. Membuat surat,
mencari ide, merangkum dokumen, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, bahkan
menganalisis data, semuanya bisa dibantu oleh teknologi.
AI kemudian membawa perubahan yang lebih
jauh lagi. Jika digitalisasi membantu kita bekerja lebih cepat, AI membantu
kita mengolah informasi, mencari ide, membuat konten, bahkan memberikan
rekomendasi. Seberapa besar perubahan itu? Microsoft Work
Trend Index 2026 menunjukkan bahwa 33 persen pekerja Indonesia masuk
kategori Frontier Professionals, yaitu kelompok pengguna AI tingkat lanjut.
Angka ini lebih dari dua kali rata-rata global yang sebesar 16 persen.
Dampaknya mulai dirasakan. AI tidak lagi sekadar teknologi yang digunakan oleh
perusahaan teknologi. Ia sudah masuk ke ruang kelas, kantor, pelayanan publik,
hingga aktivitas sehari-hari. Namun, justru di sinilah kita perlu berhati-hati.
AI dapat memberikan jawaban dengan cepat dan menggunakan bahasa yang sangat meyakinkan. Masalahnya, jawaban yang terdengar pintar belum tentu benar. Karena itu, kemampuan menggunakan AI seharusnya berjalan bersama kemampuan mempertanyakan hasilnya. Ketika mendapatkan jawaban dari AI, kita tidak cukup bertanya, “Apa jawabannya?” Kita juga harus bertanya, “Benarkah demikian?”. Data yang ada justru menunjukkan bahwa pekerja Indonesia mulai menyadari pentingnya kemampuan tersebut. Laporan Microsoft Work Trend Index 2026 menunjukkan bahwa 62 persen pengguna AI di Indonesia menilai kemampuan berpikir kritis semakin penting di era AI. Sementara itu, 60 persen menilai kemampuan melakukan quality control terhadap output AI juga semakin penting. Menariknya, 93 persen pengguna AI di Indonesia memperlakukan hasil AI sebagai titik awal, bukan sebagai jawaban akhir. Ini menarik karena semakin banyak pekerjaan yang dibantu oleh AI, justru semakin penting kemampuan manusia untuk memeriksa pekerjaan tersebut.
Hal ini juga sangat relevan dalam dunia pendidikan. Jika AI digunakan untuk mencari sudut pandang, memahami konsep, menemukan kesalahan tulisan, atau membantu mengeksplorasi ide, teknologi ini dapat menjadi alat pendukung belajar yang sangat berguna.Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika AI mengambil alih seluruh proses berpikir. Mahasiswa mungkin mendapatkan tugas yang selesai. Tetapi apakah mereka benar-benar memahami prosesnya? Pekerja mungkin mampu menghasilkan laporan dalam waktu singkat. Tetapi apakah mereka masih mampu menilai apakah isi laporan tersebut masuk akal?
Di sinilah pendidikan menghadapi tantangan baru. Kita tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa cara menggunakan teknologi. Kita juga harus mengajarkan mereka kapan harus mempercayai teknologi dan kapan harus meragukannya. Literasi AI bukan hanya sekadar kemampuan membuka aplikasi AI dan menuliskan prompt. Literasi AI mencakup kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami keterbatasan teknologi, menjaga etika, dan bertanggung jawab terhadap hasil yang digunakan. Hal ini penting karena AI juga mampu menghasilkan gambar, suara, dan video yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan. Informasi palsu dapat dengan mudah dipercaya dan disebarkan sebelum kebenarannya diperiksa.
Apalagi, persoalan transformasi digital tidak berhenti pada kemampuan manusia. Infrastruktur juga menjadi tantangan. Pada Desember 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut masih ada sekitar 2.500 desa yang belum terhubung ke internet serta terdapat lebih dari 3.000 desa dalam kondisi blank spot atau memiliki kualitas sinyal lemah. Artinya, transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan aplikasi dan perangkat. Kita membutuhkan ekosistem yang memungkinkan masyarakat memiliki akses, keterampilan, sekaligus kesadaran terhadap akses dan risiko teknologi. Institusi pendidikan juga memiliki peran penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab.
Efisiensi memang penting. Produktivitas juga penting. Tetapi keduanya tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan. Teknologi seharusnya membantu manusia bekerja lebih baik, bukan membuat manusia berhenti berpikir. AI akan terus berkembang. Kemampuannya mungkin jauh melampaui apa yang kita bayangkan hari ini, dan tantangan terbesar di era kecerdasan artifisial bukan ketika mesin mampu memberikan hampir semua jawaban. Tantangan sebenarnya adalah ketika manusia sudah tidak lagi merasa perlu berpikir dan mempertanyakan jawabannya.