Personal Branding Dosen di Era Media Sosial: Saatnya Memanfaatkan Teknologi
Oleh : Assoc. Prof. Dr. Asyahri Hadi Nasyuha, M.Kom.
Dosen : Dosen Program Studi Sistem Informasi
Bidang Penelitian dan Keminatan Penulis : Keminatan risetnya meliputi metode SPK-Multi-Criteria Decision Making (MCDM), Artificial Inteligent (AI) dan Machine Learning, Sistem Pakar, Serta Informatika Kesehatan.Aktif sebagai Dosen Peneliti, Reviewer IEEE, Reviewer Jurnal Internasional Beruputasi, Asesor BKD, Asesor JAD.
Selama bertahun-tahun, reputasi dosen dibangun lewat jalur konvensional: publikasi jurnal, seminar, dan ruang akademik yang relatif tertutup bagi publik. Karya intelektual yang berharga sering hanya beredar di kalangan sesama akademisi, sementara masyarakat luas seperti calon mahasiswa, mitra industri, hingga pengambil kebijakan jarang mengetahuinya. Digitalisasi mengubah situasi ini. Media sosial kini menjadi ruang baru bagi dosen untuk membangun personal branding sekaligus memperluas dampak keilmuannya.
Personal branding bagi dosen bukan sekadar soal popularitas. Hal tersebut adalah strategi menerjemahkan kepakaran akademik menjadi nilai yang dapat diakses dan dimanfaatkan publik. Ketika seorang dosen mengomunikasikan hasil risetnya melalui unggahan Instagram, video singkat, atau utas di media sosial, ia sesungguhnya sedang menjalankan pengabdian kepada masyarakat dengan cara yang lebih relevan dengan zaman.
Isu ini semakin penting sejak terbitnya Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026 tentang karakteristik jenjang jabatan akademik dosen, yang menegaskan bahwa kontribusi dosen tidak lagi diukur murni dari kuantitas publikasi ilmiah, tetapi juga dari dampak dan diseminasi keilmuan kepada masyarakat. Personal branding yang dikelola baik dapat menjadi bukti nyata dampak tersebut.
Pertanyaannya, bagaimana dosen yang umumnya bukan content creator dan sibuk mengajar serta meneliti dapat membangun personal branding secara konsisten? Di sinilah teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi pengungkit yang relevan. AI kini memungkinkan dosen mengubah draf artikel ilmiah menjadi ringkasan populer dalam hitungan menit, lengkap dengan infografis menarik, tanpa mengorbankan akurasi keilmuan. Alat desain berbasis AI juga mempermudah pembuatan konten carousel edukatif dan caption yang komunikatif bagi audiens non-akademik.
Pemanfaatan AI perlu tetap dijalankan dengan kehati-hatian. AI sepatutnya menjadi alat bantu, bukan pengganti substansi keilmuan. Setiap konten tetap harus diverifikasi agar tidak ada distorsi data atau klaim berlebihan yang menyesatkan publik. Personal branding yang dibangun di atas kredibilitas autentik akan jauh lebih tahan lama dibandingkan popularitas sesaat tanpa substansi.
Dampaknya pun bersifat institusional. Ketika para dosen aktif membangun personal branding berkualitas, hal ini turut mengangkat citra kampus tempat mereka bernaung. Calon mahasiswa dan orang tua kini kerap menelusuri jejak digital dosen sebagai pertimbangan memilih kampus, sementara mitra riset lebih mudah menemukan pakar yang relevan melalui pencarian di media sosial.
Pada akhirnya, personal branding dosen di era digital bukan lagi pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional menghadirkan ilmu pengetahuan lebih dekat dengan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah keberanian dosen keluar dari zona nyaman menara gading akademik, serta dukungan kebijakan kampus terhadap diseminasi keilmuan lewat kanal digital. Sebab ilmu yang baik bukan hanya ilmu yang benar, melainkan juga ilmu yang sampai dan bermanfaat bagi khalayak luas.