Medali Tak Lagi Cuma Soal Keringat, tetapi Juga Data
OLeh : Bagas Triaji, S.Kom., M.Kom.
Dosen : Dosen Universitas
Teknologi Digital Indonesia
Bidang Keminatan Penulis : bidang data engineering dan business intelligence
Di arena Asian Games, jarak antara naik podium dan pulang dengan tangan kosong sering kali sangat tipis. Seorang pelari bisa kalah seperseratus detik. Seorang pemanah bisa tergeser dari posisi medali karena satu anak panah yang meleset beberapa milimeter. Pada level setinggi ini, semua atlet sudah berlatih keras. Pembedanya sering kali ada pada seberapa cerdas latihan itu diatur.
Di sinilah data mengambil peran. Negara-negara yang rutin mendominasi perolehan medali di Asia sudah lama menjadikan data bagian dari pembinaan. Detak jantung, jam tidur, beban latihan, hasil tes fisik, sampai rekaman gerakan atlet dicatat secara teratur. Catatan itu lalu dikumpulkan di satu tempat dan diolah menjadi informasi yang mudah dibaca pelatih: apakah atlet sedang dalam kondisi puncak, mulai kelelahan, atau justru berisiko cedera. Latihan pun tidak lagi disusun berdasarkan tebakan.
Indonesia sebenarnya tidak tertinggal di garis start. Ilmu keolahragaan atau sport science sudah masuk ke sejumlah cabang olahraga, dan banyak pelatih kini terbiasa memakai jam tangan pintar, aplikasi latihan, maupun alat ukur modern. Kemauan untuk mengukur sudah ada. Tantangan kita ada di langkah berikutnya, yaitu menyatukan data yang sudah terkumpul.
Bayangkan data seperti bahan masakan. Sayur, bumbu, dan daging yang bagus tidak otomatis menjadi hidangan lezat. Semuanya harus dicuci, dipotong, dan diolah di dapur sebelum disajikan. Data atlet pun begitu. Catatan di buku pelatih daerah, angka di aplikasi ponsel, dan hasil tes di lembar Excel adalah bahan yang berharga. Ada yang ditulis tangan, ada yang dicatat seminggu sekali, ada pula yang hilang ketika pelatihnya berganti. Namun, selama bahan-bahan itu tersimpan terpisah dengan format yang berbeda-beda, bahan itu sulit diolah menjadi keputusan.
Dalam dunia teknologi informasi, pekerjaan membangun "dapur" ini disebut data engineering. Hasil olahannya kemudian disajikan melalui dasbor analitik, yaitu tampilan grafik sederhana yang memungkinkan pelatih melihat perkembangan atlet dalam sekali pandang. Pelatih tidak perlu menjadi ahli komputer. Cukup dengan membuka layar, ia bisa melihat tren performa beberapa bulan terakhir, membandingkannya dengan masa persiapan kejuaraan sebelumnya, lalu memutuskan kapan latihan perlu ditambah atau dikurangi.
Manfaatnya juga tidak berhenti di pelatnas. Jika data atlet tercatat rapi sejak tingkat sekolah dan daerah, kita bisa menemukan bibit berbakat lebih awal dan memantau perkembangannya selama bertahun-tahun. Atlet yang pindah pelatih atau naik ke tim nasional tidak perlu memulai dari nol, karena riwayat latihannya ikut berpindah. Data yang tersimpan rapi juga membantu kita menilai program pembinaan: mana yang berhasil dan mana yang perlu diperbaiki.
Tentu saja, data tidak akan pernah menggantikan pengalaman dan naluri pelatih. Data adalah rekan kerja yang membantu pelatih melihat hal-hal yang tidak tampak oleh mata, bukan penentu tunggal. Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia yang paling mengenal atletnya. Karena itu, pelatih perlu dilibatkan sejak awal agar sistem data dibangun sesuai kebutuhan lapangan, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Pada akhirnya, prestasi di lapangan tetap lahir dari kerja keras para atlet. Kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh atlet Indonesia yang berjuang di Asian Games tahun ini, baik yang meraih medali maupun yang belum. Setiap tetes keringat mereka adalah kebanggaan bangsa. Semoga semangat itu terus menyala. Semoga pula kita semua, mulai dari pemerintah, induk organisasi olahraga, perguruan tinggi, hingga masyarakat, mampu menyiapkan sistem pembinaan yang lebih cerdas agar olahraga nasional terus melaju, dari podium Asia menuju panggung dunia.